Respon Bangsa Indonesia Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme

  • 06 Apr, 2020
  • 2 menit waktu baca
Respon Bangsa Indonesia Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme

BankSoal.Biz – Imperialisme dan kolonialisme pernah terjadi di Indonesia. Dimana peristiwa tersebut mengakibatkan banyak pemerintahan yang berpusat di pulau Jawa, dan hal tersebut terbawa hingga sekarang. Pada saat masa imperialisme dan kolonialisme, tentu saja banyak mendapat perlawanan yang dilakukan bangsa Indonesia. Salah satu perlawanan yang dilakukan yakni melalui bidang politik. Berikut beberapa respon bangsa Indonesia terhadap imperialisme dan kolonialisme di bidang politik.

Munculnya Organisasi Budi Utomo

Lahirnya Budi Utomo menjadi tanda bangkitnya Nasionalisme bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Berdirinya organisasi ini juga menjadi tanda berkembangnya nasionalisme Indonesia sebagai respon dari imperialisme dan kolonialisme. Pada tanggal 30 Mei 1908 lahirlah Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA. Dimana Budi Utomo terdiri dari kata Budi yang berarti perangai atau tabiat dan Utomo yang berarti baik atau luhur.

Nama tersebut diusulkan oleh Soeraji. Dan semboyan yang dikumandangkan bukan Jawa Vooruit (Jawa Maju), melainkan Indie Vooruit (Hindia Maju). Berdirinya Budi Utomo dipelopori oleh para pemuda STOVIA, Sekolah Guru Bandung, Sekolah Peternakan dan Pertanian Bogor, Sekolah Pamong Praja Magelang, dan Sekolah Sore untuk Dewasa di Surabaya.

Berdirinya Budi Utomo memiliki tujuan untuk memperoleh kemajuan yang harmonis bagi nusa dan bangsa Jawa dan Madura. Mulanya, Budi Utomo hanya menghendaki perbaikan sosial yang meliputi Jawa dan Madura, sehingga kata kemerdekaan belum disebut. Banyak usaha yang ditempuh untuk memajukan pengajaran, peternakan, pertanian, teknik, industri, perdagangan, dan menghidupkan kembali kebudayaan.

Berdirinya Organisasi Sarekat Islam (SI)

Pada awal abad ke 20, organisasi Sarekat Islam dikenal sebagai organisasi sosial dan politik yang sangat mencolok. Pada saat itu, organisasi ini memiliki anggota terbesar. Sumber resmi menyatakan jika SI lahir dari perkumpulan kaum pribumi yang mengamankan Laweyan, Solo. Dimana pendirinya bernama Haji Samanhudi. Namun sumber lain menyatakan jika SI berasal dari organisasi yang bernama Sarekat Dagang Islamiyah (SDI) dengan pendiri Tirto Adhi Soerjo tahun 1909.

Namun pada tahun 1913, untuk menjegal berkembangnya SDI. Penguasa kolonial membuang Tirto ke Ambon. Hingga kemudian kepengurusan SI berpindah ke Haji Samanhudi dan kegiatannya berpindah ke Solo. SDI di bawah kepemimpinan Haji Samanhudi terus berkembang, akan tetapi beliau tidak bisa mengendalikan organisasi yang terus berkembang. Apalagi ditambah tekanan dari penguasa kolonial. Akhirnya tahun 1912, kepemimpinan SI diserahkan kepada Tjokroaminoto.

Lahirnya Organisasi Perhimpunan Indonesia

Respon keras terhadap imperialisme dan kolonialisme tidak hanya diserukan oleh pemuda dan rakyat yang ada di daerah Hindia (nama Indonesia pada saat itu), namun juga muncul jiwa nasionalisme yang membara dari luar negeri. Jiwa nasionalisme tersebut muncul pada para mahasiswa yang sedang belajar di Belanda. Hingga kemudian pada tahun 1908, para mahasiswa tersebut membentuk Indische vereeniging.

Awal mulanya, organisasi tersebut terbentuk atas dasar sosial. Namun seiring berjalannya waktu, nama organisasi berubah menjadi Indonesia Vereeniging pada tahun 1992. Perkumpulan mahasiswa itu pun semakin melebarkan sayapnya hingga memasuki dunia politik. Banyak gagasan yang disalurkan melalui majalah Hindia Putra. Hingga tiga tahun kemudian, pergerakannya menjadi lebih radikal dan mengganti nama organisasi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

Dampak adanya imperialisme dan kolonialisme yang dilakukan oleh bangsa Belanda tentu saja membawa banyak perubahan bagi Indonesia. Dampak yang paling menonjol yakni pada bidang politik Indonesia. Koloni Belanda tersebut terlalu banyak ikut campur dalam pemerintahan yang ada di kerajaan Indonesia. Maka tidak mengherankan jika bermunculan respon keras dari rakyat Indonesia terhadap imperialisme dan kolonialisme.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *