Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia

  • 2 min read
  • Mar 24, 2020
Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia

BankSoal.Biz – Indonesia merupakan salah satu negara dimana kebanyakan masyarakatnya memeluk agama islam. Awal mulanya, masyarakat di Indonesia lebih banyak menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Wilayah Indonesia yang berada di jalur perdagangan dunia, sehingga seringkali dijadikan bangsa lain untuk tempat singgah sekaligus menyebarkan keyakinannya, termasuk agama islam. Agar semakin memahami sejarah masuknya Islam ke Indonesia, yuk simak ulasan berikut.

3 Teori yang Menjelaskan Masuknya Agama Islam ke Indonesia

  1. Teori Gujarat

Masuknya Agama Islam ke Indonesia Teori Gujarat

Teori ini bamyak diyakini oleh sarjana dari belanda seperti J. Pijnapel yang merupakan lulusan dari universitas leiden. Teori ini mengatakan bahwa islam masuk ke indonesia pada abad ke-7 H atau pada abad ke- 13 M dan berasal dari Gujarat. Wilayah ini berada di India bagian barat, dekat dengan laut Arab. Pendapat teori ini berdasarkan masdzab yang dianut oleh masyarakat Indonesia adalah madzab imam syafi’i yang juga dianut oleh masyarakat Gujarat.

Para sejahrawan yang meyakini teori ini, mengatakan bahwa agama islam dibawa oleh pedagang Gujarat yang berdagang ke timur, termasuk wilayah Indonesia. Selain itu, adanya batu nisan di atas makam Sultan Malik As-Saleh di Pasai, aceh pada abda ke 13 M dan makam Maulana Malik Ibrahim di gresik pada abad ke 15 M. Dimana corak nisan tersebut menyerupai batu nisan yang ada di Gujarat sehingga meyakini bahwa sejarah masuknya Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat.

Ada yang menyimpulkan bahwa batu nisan tersebut di impor langsung di Gujarat atau orang Indonesia yang sebelumnya belajar kaligrafi khas gujarat. Namun, teori ini juga mendapat bantahan dari beberapa sejahrawan dikarenakan Gujarat serta anak benua India seringkali dijadikan pedagang Arab singgah sebelum menuju ke Asia Tenggara. Dan pada masa tersebut, wilayah Gujarat masih mendapat pengaruh hindu yang kuat.

  1. Teori Makkah

Teori ini mengatakan bahwa Islam di Indonesia berasal langsung dari Makkah. Ahli sejarahwan yang pertama kali mengatakan ini adalah Haji Abdul Karim Amrullah atau HAMKA. Beliau tidak setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa Islam yang dibawa oleh indonesia di bawa oleh pedagang Gujarat. Selain itu, beliau juga meyakini bahwa semangat penyebaran Islam di Indonesia tidak dimotivasi oleh faktor ekonomi.

Penyebaran Islam oleh pedagang Arab lebih terdorong karena semangat untuk menyebarkan agama Islam. HAMKA juga berpendapa bahwa penulis barat sengaja menghilangkan keyakinan masyarakat Melayu mengenai hubungan rohani yang cukup kuat antara mereka dengan tanah Arab sebagai sumber menimba ilmu dan mempelajari ajaran islam. Hal ini juga diperkuat oleh teori sufi yang meyakini bahwa sejarah masuknya Islam ke Indonesia dibawa oleh para musafir Arab.

  1. Teori Persia

Masuknya Agama Islam ke Indonesia Teori Persia

Teori terakhir menyebutkan bahwa agama islam di Indonesia berasal dari daerah Persia. Hal ini didasarkan pada kesamaan budaya dan tradisi islam yang ada di kedua wilayah tersebut. Beberapa kesamaan tersebut antara lain peringatan kematian cucu nabi Muhammad SAW sebagaimana yang berkembang di wilayah Pariaman, Sumatera Barat.

Selain itu, hal ini juga didasarkan pada kejadian yang serupa yaitu atas matinya Syeh Siti Jenar dengan Sufi Al-Hallaj dari Persia akibat ajarannya yang dinilai tidak sesuai dengan ketauhidan Islam. Bukti lain adalah istilah pengejaan yang digunakan di Indonesia menyerupai bahasa Iran. Dan yang terakhir, batu nisan di Indonesia meemiliki kesamaan dalam hal seni kaligrafi dengan di Iran sehingga sejarah masuknya Islam ke Indonesia diyakini berasal dari Persia.

Itulah beberapa teori yang menjelaskan tentang masuknya agama Islam ke wilayah Indonesia. Dari masing masing teori memiliki alasan dan bukti masing masing tentang asal mulanya islam di Indonesia. Meskipun perbedaan pendapat ini, namun ada kesamaan antara ketiganya dimana Islam dibawa dengan jalur yang damai sehingga mudah diterima oleh masyarakat Indonesia, bukan dengan jalan kekerasan seperti peperangan atau perebutan kekuasaan.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *